29 November 2012

PENDOSA


Sehabis sekolah aku langsung pergi ke kamarku dan membanting pintu kamarku dengan keras tanpa memperhatikan sekitarku. Aku masih merasa sangat kesal dengan tingkah salah satu temanku yang terus mengejekku dan terus menyalahkanku akan hal sepele. Andai saja dia bukan wanita pasti sudah ku tonjok dengan keras.
“ Gus, bagus, Ada apa ?” terdengar suara lembut didepan pintu kamarku. “Gak ada apa apa bu” aku menjawabnya dengan suara agak keras dan seakan terdengar cuek. “ayolah gus, ada apa? Kamu kan bisa cerita dengan ibu to”, “Gak ada apa apa Ibu. ., Bagus mau istirahat jangan diganggu bu!” lagi aku menjawabnya dengan suara yang agak keras serta dengan nada yang agak sinis dan setelah itu tidak ada suara lagi yang terdengar dibalik pintu.
Setelah pikiranku mulai tenang aku beranjak dari kasurku dan aku berencana untuk meredam pikiranku dengan jalan jalan bersama teman-temanku. Pada saat aku akan keluar rumah ibu mencoba  menghadangku sambil berkata “ Mau kemana kamu gus malam malam begini?”, dan tanpa menjawabnya aku langsung pergi meninggalkan rumah.
Aku tiba dirumah temanku dan aku mengajak temanku untuk hang out. Sebelum temanku berangkat, dia meminta izin terlebih dahulu kepada ibunya dengan mencium tangannya sambil mengucapkan kemana ia akan pergi dan selalu kata kata temanku tidak pernah lebih keras dari orang tuanya. Aku maerasa telah berbuat banyak dosa kepada orang tuaku.
Ketika kami hang out, teman baruku ini menunjuk kepada salah satu pemulung sampah. “Gus, aku akan bercerita sedikit tentang kehidupan pemulung tersebut kamu mau kan mendengarnya?” aku hanya menganggukkan kepalaku. “Pemulung itu bekerja dengan giat dan banting tulang mulai dari pagi sampai malam, kamu tahu kenapa?”  aku menggeleng gelengkan kepalaku. “karena dia punya anak, coba fikirkan lebih dalam lagi temanku apa yang telah ku ceritakan tadi”.
Saat aku berada di puncak puncaknya mood ku. Temanku berpamitan pulang Karena jam telah menunjukkan waktu aku harus pulang. Sebelum temanku pergi ia menjelaskan kepadaku kenapa ia terlihat anak rumahan, ia tidak tersinggung walau teman-temanya menyebutnya anak rumahan atau anak kuper. Ia berbuat begitu karena ia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir, walau zaman telah maju dan orang tuanya telah ketinggalan zaman, ia tidak ingin menipu orang tuanya sendiri, karena orang tuanya telah bekerja sangat keras untuknya.
Aku sendirian dipinggir jalan dan mulai merenung akan berbagai hal positif yang telah dicontohkannya kepadaku. Aku merasa telah berbuat banyak dosa kepada orang tuaku. Ternyata selama ini aku adalah seorang pendosa yang besar.
 Aku ingin merubah sikapku ini. Kuputuskan untuk sholat taubatan nasuha di masjid yang berada di samping jalan tempat aku berpijak.Aku mengambil air wudlu yang dingin di tengah malam ini. Aku merasakan sensasi yang berbeda ketika aku membasuhkan air itu ke wajahku. Semua akan tindakan kasarku kepada ibuku teringat kembali. Tanpa sadar air mataku pun jatuh dan tak kuat ku menahannya aku menangis sekeras kerasnya tanpa sanggup meneruskan wudlu.
  Aku mencoba lagi wudlu walau teringat dosa dosaku yang lalu. Aku memusatkan seluruh pikiranku hanya kepada tuhan semesta alam sambil memohon ampun kepadanya atas dosa dosa yang telah ku lakukan.
Terasa lemas badan ini namun keinginan untuk bertemu dengan ibuku mengalahkan rasa itu. Aku langsung berlari dari masjid dan mengambil jalan jalan pintas lewat gang gang agar aku dapat pulang lebih cepat.
 Namun aku tak menyangka, aku sekarang telah dikepung oleh sekelompok geng yang menargetku. Aku telah berkata kepada mereka kalau aku tidak punya uang, dan karena mereka tidak mendapatkan keinginannya mereka melampiaskan kekesalannya kepadaku sampai aku tak sadarkan diri oleh serangan mereka yang keroyokan.
Allahu akbar allahu akbar, terdengar suara adzan subuh yang membuatku tersadar. Ketika aku tersadar seluruh tubuh ini terasa sakit dan bahkan terdapat darah dikepalaku. Aku mengeluarkan segenap tenagaku untuk segera pulang meminta maaf kepada ibuku karena aku telah lama menyusahkannya dan telah telat pulang ke rumah.
Ketika aku tiba dirumahku, aku kaget sambil kebingungan. Tidak pernah aku melihat rumahku begitu ramai pada saat subuh. Aku lihat banyak orang yang berwajah keruh. Aku langsung berlari ke rumahku dan tubuhku langsung bergetar, terguncang bagai disambar petir, tidak mungkin lebih parah dari itu. Mulutku terkunci rapat. Aku hanya berdiri dan tak dapat bergerak sedikitpun. Apakah ini benar benar nyata?. Benarkah ini nyata?. Tidak mungkin ini pasti mimpi.
 Aku melihat tubuh ibuku telah terbujur kaku.  


Respon:

0 komentar:

Post a Comment