13 January 2014

Last Tribe Chapter 1.0

LAST TRIBE

CHAPTER 1.0
THE LOST RING

“Ayo, kita lihat pertunjukaannya!” 
“Ayo-ayo”

Hari ini akan diadakan berbagai pertunjukan di alun-alun kota. Dan selalu diadakan sekali setiap tahun. Ehmm, hanya itu saja yang ku tahu sampai saat ini.
Dan aku tak ingin melewatkan saat-saat yang paling krusial malam ini. Sambil berlali menuju alun-alun kota, terbesit pertanyaan di pikiranku.

“eh sebenarnya, pertunjukan ini buat memperingati apa ?” tanyaku pada salah seorang temanku yang telah berlari di depan.
“wah-wah, kog sampe gak tau. Hari ini adalah hari jadi kota Eidelwess dan sekaligus menjadi ulang tahunnya putri Elma”

Putri elma katamu, seperti kau sudah sangat kenal saja dengannya. Padahal aku tak pernah tahu kalau kau punya teman yang bernama elma.

“putri Elma, siapa dia ?”
“Janga bilang kalau kau tak tahu siapa dia. . . . ..”

Dia tetap saja berlari dan tak mau memberitahuku siapa elma sebenarnya, mungkin aku harus menanyakannya sekali lagi.

“DITO, aku benar-benar enggak tahu siapa itu elma, bisa di ceritakan?” 
 “haah, jadi kamu bener-bener gak tahu siapa dia?, sebenarnya apakah kau tak pernah mempelajari negara lain selain tempat lahirmu ?”
“ehmm, hehehe. Aku kurang tertarik dengan hal yang seperti itu”

Akhirnya kami mulai tak bisa berlari lagi dan terpaksa harus berjalan, karena di depan sudah ramai dipenuhi orang-orang.

Sambil menghela napas pajang  “putri Elma, yah seperti yang kau tahu di cerita atau dongeng-dongeng Kerajaan.  tentang putri raja yang sangat cantik dan mungkin dia nanti akan menjadi penerus Kerajaan”

“wah kog sampai bisa lahirnya sama dengan hari jadinya kota ini....?”
“yah, mungkin itulah takdir, dan masyarakat di sini pun percaya dia nanti akan membawa kota ini menjadi lebih makmur lagi”

Benarkah dia lahir tepat pada hari jadinya kota ini, ataukah di ada-ada semata agar para rakyat semakin simpati?.

“ehmm, semoga saja”
--- | | ---


Seperti bukan malam saja, banyak sekali cahaya warna-warni di sekitar sini, di setiap sudut kota, di toko-toko, dan bahkan hampir di setiap jalan. Sepertinya mereka telah bersiap-siap menyambut hari jadi kota ini sejak jauh-jauh hari.

Di setiap kami berjalan, banyak sekali pedagang yang berjualan berbagai macam barang. Baik itu perhiasan, oleh oleh, cenderamata, makanan dan masih banyak hal lagi. Tapi ada satu hal yang paling membuatku takjub malam ini.

Terlihat dengan jelas tawa dan senyum kegembiraan rakyat di sini. Mereka semua hanyut dalam sebuah perayaan kegembiraan.  

Aku sangat senang bisa berkunjung di tempat yang seperti ini.

Kami berdua mencoba menerobos dari keramaian agar bisa lebih mendekat. Kami harus berdesak desakan dengan berbagai macam orang dari berbagai belahan negara tetangga. Hal ini mungkin karena kami mungkin sudah hampir sampai di alun-alun kota.

Dan di situlah tujuan kami berdua yang sebenarnya.

Yah, acara ini telah sangat populer di negara-negara sekitar dan beritanya pun sampai terdengar oleh kami, pedagang ulung yang berkelana di berbagai belahan dunia.
Setelah aku tiba di alun-alun tak lama terdengar suara seseorang dari pengeras suara.

Criingg.... ngiing,

“selamat malam, kepada seluruh masyarakat dimohon untuk mematikan semua lampu sejenak, karena proses upacara akan segera dilaksanakan”

Tak lama semua warga mematikan lampu, pihak Kerajaan pun tak luput mematikan lampu di seluruh kota terkecuali di sector-sector yang dianggap rawan.

Kulihat seluruh kota padam, tak seperti tadi yang bagaikan siang hari. Kini kota ini telah menjadi gelap gulita. Sinar rembulan dengan perlahan memberikan kami sedikit penerangan.

Tanpa aku sadari seluruh kota telah terdiam. Hanya hembusan nafas dan suara gesekan kaki dengan tanah. Suara angin terdengar kencang. Seakan akan menghembuskan pandangan kita ke langit.

Aku bingung sedang apa mereka semua.

“kenapa semuanya diam ?” tanyaku lirih pada dito.
“ssttt, diamlah saja, nanti kau juga akan tahu sendiri”

Jawaban yang tak membantu sama sekali. lebih baik kau diam saja tadi, daripada menjawab pertanyaanku jika jawabanmu seperti itu.

Dari pengeras suara terdengar

Seluruh rakyatku, kita lahir dari masa lalu. Dulu kota Eidelweis ini adalah sebuah hutan lebat. Dulu kota ini gelap gulita,  Para pendahulu kita berusaha dengan keras sampai bisa menjadi kota yang terang. Mereka semua pernah mengalami masa-masa kesulitan yang mungkin lebih besar dari kita.
Janganlah melupakan masa lalu, karena tanpa ada masa lalu tak ada pula masa depan. Dan jangan pernah melupakan jasa para pendahulu kita.
Mulailah melakukan yang terbaik demi bangsa dan sambut malam ini dengan kebahagiaan dan kedamaian.

Terlihat cahaya lilin kecil dari tempatku berdiri. Meskipun jarak lilin tersebut dengan tempatku berdiri cukup jauh, namun karena situasi yang gelap gulita membuat lilin itu mudah dikenali dan langsung menjadi pusat perhatian.

Seperti cahaya lilin ini, walau kecil, walau redup, tapi selama kita masih punya harapan, kita pasti bisa mencapai impian kita, percayalah !

Terlihat sebuah cahaya melesat ke angkasa bersama bintang bintang.

Duuaarrrr.

Sebuah kembang api besar yang indah di angkasa.

Doaarr, duuaar, duaarrr. Dan langsung disusul oleh ratusan kembang api serentak. Terlihat banyak sekali kembang api di langit.

Warga berteriak sorak-sorai. semuanya sangat indah, lampu-lampu pun mulai menyala kembali. Berbagai acara telah disiapkan setelah upacara ini. Berbagai seniman telah bersiap-siap menghibur rakyat Eidelweiss.

Aku jarang-jarang bisa melihat kembang api sebagus itu, sepertinya kemajuan teknologi di bidang alchemi* cukup pesat di kota ini.

Alchemi* : teknologi yang berorientasi pada mesiu dan bahan-bahan peledak atau sejenisnya.   

Tapi ................

Siapa gadis tersebut ?, kenapa hanya dia yang terdiam duduk disitu?. Padahal semua rakyat di kota ini sedang bersuka cita.

“eh, kenapa dia hanya diam saja?” tanyaku pada Dito.
“dari beberapa informasi yang kudapat, dari dulu ia memang seperti itu”
“kenapa.....?”
“ehmm, tak ada yang tahu alasannya kenapa, tapi sebenarnya dia selalu baik kepada semua warga di sini”
“memangnya, dia itu siapa ?”
“waahh, kamu ini. Kamu bodoh atau kenapa, hal yang besar begitu sampai tidak tahu”
......
.....
Setelah berkata seperti itu hanya diam saja. Sepertinya aku harus bertanya lagi pada dito, agar aku dapat jawaban darinya tentang siapa gadis itu.

“ayolah, aku benar-benar tak tahu siapa dia”
“dia itulah yang bernama Elma, Putri Elma”
“haaa, jadi putri Elma itu umurnya tidak jauh berbeda dengan kita, aku kira dia masih kanak-kanak”

---- | | ----

Respon:

0 komentar:

Post a Comment