13 September 2017

Long Text Alert

aku sudah siap akan kenyataan pahit yang mungkin bakalan terjadi.
secara alamiah, meskipun antara pria dan wanita mempunyai umur yang sama. kebanyakan dan sering kali wanita menikah lebih cepat 5 tahun daripada sang pria.
thats the fact.!
memang banyak pertimbangan, dan salah satu pertimbangan utama yang ada di masyarakat, karena pemikiran wanita jauh lebih cepat dewasa daripada pria.
faktor kedua karena pria biasanya lebih awet muda daripada wanita, meskipun jarak pernikahan terkadang sampai 10 tahun, di umur yang ke 40 tahunan, keduanya malah terlihat sepantaran.

tapi bukan faktor-faktor itu yang aku takutkan.
ini masalah persaingan, mungkin memang seseorang yang membuatku - dalam tanda kutip - tertarik. berada di umur yang sama, atau malah mungkin lebih tua daripada aku. 
—————–
(btw gak ada satupun orang yang aku kasih tau kapan ulang tahunku, kecuali salah satu temenku yang emang kebetulan ulang tahunnya sama)
banyak hal-hal aneh yang aku kira hanya aku aja yang suka ngelakuin itu, dan ternyata dia pun juga sama. karakter dan bahkan hasil psikotest pun hampir sama. gak tahu juga kenapa cuma gara-gara lahir di waktu yang sama bisa punya beberapa kemiripan kayak gitu, gak semuanya juga sih)
———————-

kemungkinan besar si dia pasti bakalan memperoleh banyak tawaran untuk menikah. dan ketika aku masih berjuang untuk beberapa hal yang memang harus aku lakuin saat ini sampai beberapa tahun kedepan.

bisa saja diwaktu tersebut datang seseorang yang baik untuknya.
kalau itupun terjadi, dan jika dia nanya apa yang harus dilakuin disaat aku masih belum mampu, aku bakalan ngomong
“kalau ada orang baik yang datang untuk ngajak kebaikan kenapa harus ditolak ?” 
aku gak bakalan marah atau gimana, toh kalau dia juga tambah baik sama dia kan alhmadulillah, gak harus dipaksain.
——————
jadi terkadang aku mungkin sering nanya, “kapan nikah ?”, atau “kalau sudah nikah jangan lupa undangannya ya”
buat sekedar ngasih kode, ngasih informasi kalau dirinya memang sudah ada imamnya. sehingga aku tak terus-terusan mengharapkannya.
—————–
jujur belum ada orang yang membuat tekadku bulat untuk menjadikan pendamping kelak, mungkin ada satu atau dua. tapi kalau sekarang masih yakin, aku belum tahu bagaimana agamanya, bagaiamana situasi dan kondisi kehidupannya, bagaimana kesibukan dan kesehariannya, dan masih banyak lagi.

tapi aku juga gak begitu yakin, karena sangat besar sekali kemungkinan mereka bakalan nikah duluan.
———–
aku gak ingin ngasih harapan yang gak tahu apakah emang bener aku nanti bisa lakuin atau enggak. aku gak ingin membuat seseorang menunggu bertahun-tahun dan di akhir penantiannya hanya duri dan racun yang ia dapat.
lebih baik gak usah mengharapkan sama sekali,
toh nanti kalau kamu masih belum punya imam, dan aku sudah mampu, aku bakalan datang. tapi jangan pernah nunggu.
kalau ada orang baik yang datang langsung terima saja.
kamu pernah denger hadits nabi kan?, 
“yang kalau ada seseorang baik, datang kerumah seseorang untuk melamar dan ditolak, maka akan terjadi musibah”
baik ini sudah tentu sesuai dengan kriteria calon pendamping yang baik sesuai islam, bukan baik menurut pandangan kita aja. terkadang apa yang kita anggep baik belum tentu baik beneran, begitu pula sebaliknya.
jadikan patokan agama sebagai nomor satu dari parameter kondisi operasi untuk terciptanya sebuah process ijab qabul.
———————–

jangan tunggu aku, kalau ada orang baik datang, terima saja.

———————

Respon:

0 komentar:

Post a Comment